SMKN2 JUARA LOMBA KARYA TULIS KREATIF

Diposting pada : 2021-09-09, oleh : admin, Kategori : Kegiatan Siswa, Komentar : 0

jlkt

SELAMAT KEPADA PARA JUARA LOMBA KARYA TULIS KREATIF

Tema:

Superhero di Kehidupan Nyataku

JUARA I

 Wikan Ratri Ashoka Wisnu Susilo Putri (SMK Negeri 2 Ponorogo Jawa Timur)

Judul: Ephiphany

JUARA II

Maitsa Nabilah Atsani (MAN 1 Yogyakarta)

Judul: Ternyata Ia adalah Diriku Sendiri

JUARA III

(SMA Negeri 1 Randublatung Blora Jawa Tengah)

Judil: My Superhero Is Real

Selamat kepada para juara! Semoga prestasi yang diraih mampu dikembangkan dan mengharumkan nama orangtua dan lembaganya.

Amin ya Rabbal'alamin.

#stpibinainsanmuliayogyakarta #stpikampusgurukreatif #stpiselaludihati #gurukreatifIndonesia #stpigurukreatifindonesia #karyatuliskreatif #kreatif #inspiration #kisahinspiratif #superhero #mysuperhero

https://www.instagram.com/p/CTboDMGJ83E/?utm_medium=share_sheet

EPIPHANY

OLEH WIKAN RATRI ASOKHA WISNU SUSILO PUTRI

SMK 2 PONOROGO            

 

Kehilangan seseorang adalah hal yang paling menyakitkan bukan? Entah itu kematian, kepergian yang tak sempat terucap dalam bentuk kata maupun lisan. Akan tetapi, kehilangan yang paling mendalam dan sangat menyakitkan adalah pergi dengan senyuman, sebab sudah terlalu banyak memupuk rasa kecewa dan kesakitan yang sangat mendalam.  Kekecewaan sering disepelekan karena mereka menganggap kecewa adalah hal yang sangat tidak berpengaruh dalam hidup, tanpa mereka sadari hal sepele juga bisa mendatangkan kekecewaan yang besar dan bisa membuat suatu ikatan yang awalnya terjalin bisa terputus. Orang-orang yang sudah lelah dengan kecewa sewaktu-waktu bisa pergi tanpa kita sadari, pergi meninggalkan dunia dengan rasa sakit yang teramat sangat.

Apa kau mau terus seperti ini?”

“Tidak, aku tidak.”

Lihatlah dirimu,”

 Suara itu menuntunnya untuk melihat ke arah cermin yang ada di depannya. Di sana, dia melihat bayangannya sendiri tengah menatapnya dari balik cermin dengan raut kecewa yang teramat menyakitkan.

“Lihat, bagaimana raut wajahmu yang sedang kecewa itu. Sangat menyedihkan bukan?”

“Apa? Suaranya semakin pelan, seiring ketakutan yang menjalar. Apa yang kamu inginkan?”

“Hahaha... tidak ada yang aku inginkan Karang.”

Bayangannya dalam cermin itu tertawa lebar dengan rasa ketakutan, tangan yang penuh noda darah itu menggaruk sisi kaca diiringi desis kenikmatan. Dalam posisinya, Karang tetap diam. Tangannya terkepal. Karang tahu ini hanya halusinasinya, tapi entah mengapa dirinya tidak bisa berbuat apapun.

“Karena aku adalah kamu.”

Di dalam ruangan berukuran kurang lebih 5 x 6 meter terdapat seorang gadis yang tengah duduk melamun sembari menatap ke arah cermin yang berada di depannya, sesekali terdengar suara yang mengalun lembut dari bibir pucatnya itu. Namanya Karang, Karangka Putri Arcturus.

Sama seperti namanya, Karang berarti bebatuan yang sering ditemukan di laut, yang selalu kokoh walau di terjang ombak, Arcturus sendiri diambil dari nama bintang yang paling terang di rasi Bootes, yang juga dikenal dengan bintang paling terang ke tiga di langit malam. Bisa diartikan seorang wanita yang terlahir dengan kebebasan sekuat batu karang yang bersinar bagaikan bintang yang paling terang di langit malam.

Namun seperti namanya pula, hidup Karang tak sekuat seperti batu karang di lautan. Kesedihan, kekecewaan, dan penyesalan yang selalu terpendam dalam dirinya membuatnya menjadi sosok yang buta. Rasa iri, insecure dan terlalu percaya kepada orang lain membuatnya diperbudak oleh mereka. Bully dan cacian berkedok candaan selalu diterimanya, terkadang ucapan yang keluar dari mulut mereka,  Karang terima dengan lapang dada, dirinya terlalu terlena akan dunia yang orang lain buat untuk dirinya tanpa menyadari bahwa Karang mempunyai dunianya sendiri yang lebih menghargainya.

Tok...Tok

Karang menatap pintu berwarna putih tulang itu dengan senyuman saat melihat seseorang yang ditunggunya datang. Dengan raut bahagia, Karang bangun dari duduknya dan langsung berlari, menghamburkan tubuhnya ke arah wanita dengan jas kedokteran itu. Memeluknya erat seakan enggan melepasnya.

“Dokter!” Karang melepaskan pelukannya sebentar lalu kembali memeluk dokternya, ah bukan dokter tapi penyelamat ke dua hidupnya. Dokter bername tag Bulan itu tersenyum, tangannya terulur mengusap rambut Karang dengan tulus.

“Bagaimana kabarmu Karang?” tanya Dokter Bulan sambil menatap Karang yang terlihat lebih baik dari sebelumnya. Karang tertawa lalu menunjukkan sesuatu yang berada tersembunyi dalam lengannya.  Dokter Bulan menatap sesuatu yang berada dengan senyum lebar.

“Perubahan yang luar biasa Karang,” kalimat yang terdengar tulus itu keluar dari bibir tipis Dokter Bulan begitu melihat bekas luka yang hampir menghilang.

Karang bertepuk tangan bangga. “Tentu saja! Akhirnya setelah sekian lama Karang bisa menyalurkan sesuatu bukan pada tubuh lagi,” Karang berbalik dan mengambil sesuatu di atas kasur dan memberikannya pada Dokter Bulan. “Lihat, Karang sudah menemukan sesuatu yang menjadi dunia Karang.”

Sebuah buku bersampul keindahan laut dengan panorama langit malam adalah yang pertama kali dilihat oleh Dokter Bulan. Pelan tangannya tergerak membuka lembar pertama dalam buku itu. Di sana terlihat sebuah lukisan dengan warna yang gelap. Lembar kedua terlihat sebuah pohon yang sudah mati dengan seorang anak yang memegang balon berwarna biru laut.

Lembar-perlembar kertas di balik dan di sana terlihat lukisan-lukisan yang selama ini menggambarkan diri dari gadis yang tersenyum lebar di depannya. Hingga sampai pada lembar ke 23 Dokter Bulan mengernyitkan dahi bingung.

“Apa maksud lukisan kamu ini?” tanya Dokter Bulan sambil menunjukkan sebuah lukisan yang tidak memiliki arti.

Karang melihat lukisan itu. “Oh ini,” tangannya menunjuk sebuah bayangan hitam yang ada di balik cermin tua namun terlihat mewah lalu melirik ke arah cermin yang ada di ruangan itu dengan cemberut. “Dia itu tidak mau menghilang Dokter, selalu membuat Karang ingin melukai diri sendiri. Tapi tenang Dok, sekarang Karang berusaha tidak menghiraukannya kok.” Suara Karang melirih seiring kalimat yang keluar dari mulutnya terasa sangat menyakitkan, “Walaupun terkadang ada keinginan untuk mengikuti perkataannya.”

Karang menunduk, menatap ke arah lantai yang selama ini selalu menemaninya berada di ruangan ini. Dokter Bulan tersenyum lalu mengelus rambut Karang dengan lembut. Hatinya terenyuh melihat keinginan dan kemauan Karang untuk sembuh. Ingatannya kembali pada saat di mana dia menemukan Karang yang tengah berjalan tanpa arah dengan luka di sekujur tubuhnya, sangat menyakitkan baginya melihat keadaan Karang saat itu. Pandangan kosong dan tidak ada semangat hidup. Halusinasi yang parah membuat keadaan Karang sangat mengenaskan.

Dengan ketulusan, Dokter Bulan membawa Karang ke rumah sakit tempatnya bekerja. Di sana Karang dirawat dengan sungguh-sungguh olehnya walau awalnya kondisi Karang bisa terbilang cukup parah dengan hasil diagnosis menderita depresi psikotik.

Depresi psikotik  adalah gejala depresi berat yang disertai halusinasi, penderita biasanya akan mengalami halusinasi suara maupun melihat sesuatu yang tidak nyata. Dan itu terjadi pada gadis dengan wajah manis itu, sangat miris juga menyakitkan. Setiap hari Dokter Bulan harus memberikan perhatian-perhatian kecil pada Karang agar gadis itu kembali bersemangat. Tanpa lelah Dokter Bulan terus berada di samping Karang, 24 jam penuh perhatian Dokter muda itu tertuju padanya. Hingga waktu itu tepatnya pada bulan November gadis itu membuat seluruh penjuru Rumah Sakit dibuat khawatir karena paginya di bangsal VI ditemukan bercak darah yang mengarah ke ruangan Karang.

Di dalam sana ada Karang yang tengah menatap ke arah cermin dengan pandangan berkilat marah sambil menodongkan sebuah penggaris yang berlumur darah.  “Sudah aku bilang bukan aku pelakunya! Aku tidak melakukan hal semacam itu!” Karang berteriak marah pada sosok di dalam cermin tangannya yang terluka karena penggaris berulang kali memukul cermin dengan keras. Dokter yang sedang bertugas kala itu langsung mengamankan Karang dibantu oleh beberapa perawat. Dengan kekuatan yang lebih banyak Karang berhasil ditenangkan. Perawat lalu menelfon Dokter Bulan yang saat itu tengah cuti. Mendengar apa yang sedang terjadi di Rumah Sakit Jiwa, Dokter Bulan segera berangkat.

“Dia mengatakan kalau aku tidak boleh berada di tempat ini, aku pembawa sial. Aku tidak pantas untuk hidup di dunia ini, bahkan dia berkata teman-temanku yang lain mengucapkan hal yang serupa,” Teriak Karang yang kini tengah terbaring di kasur dengan tangan dan kaki yang terpaksa di borgol.

“Tidak, kamu pantas untuk hidup di dunia ini Karang.”

Karang menatap ke arah Dokter yang terasa asing di matanya lalu tertawa. “Jika kamu mengatakan aku pantas untuk hidup kenapa semua menyuruhku untuk pergi? Kenapa mereka mengatakan dunia akan lebih baik tanpa aku?” Karang menatap wajah Dokter itu dengan raut gamang.

“Mereka...” tenggorokan Karang seakan menahan kata yang akan terucap. “Mereka semua menyuruh aku untuk berhenti berharap, berhenti memimpikan sesuatu yang mustahil. Mereka berkata kalau aku terlalu percaya diri dengan hidupku, terlalu percaya akan apa yang mustahil terjadi. Padahal aku hanya berharap,” kalimat itu terhenti saat air mata di matanya dengan lancang turun. “Bisa mencintai diriku sendiri,”

Suasana di ruangan itu mendadak sunyi saat kalimat yang Karang ucapkan itu menusuk hati orang yang berada disana.

“Mimpiku adalah aku bisa mencintai diriku sendiri tanpa melihat standar yang diinginkan orang lain, aku ingin menciptakan dunia yang bisa mengerti aku setiap saat bukan aku yang harus selalu mengerti dunia yang orang lain inginkan.”

Beberapa perawat yang berada di sana mengusap air mata yang turun setelah mendengar ucapan Karang, bahkan sebagian dari mereka memilih menyingkir pergi, tidak kuat saat melihat keadaan Karang yang sangat menyakitkan itu. Karang menatap ke langit-langit kamar dengan tawa yang menggema.

“Hahaha kalian pasti menganggap aku gila bukan? Tidak apa-apa aku paham, memang keinginanku terlalu berlebihan dan sangat tidak masuk akal.”

“Tidak, itu sangat masuk akal. Kamu berhak mengharapkan dan membuat itu terjadi Karang.”

Karang menatap dari sudut matanya, di sana Dokter Bulan berdiri di depan pintu dengan napas terengah sambil menatap dirinya dengan tatapan yang selama ini dia rindukan. Dokter Bulan berjalan dengan pelan ke ranjang Karang dan dengan pelan tangannya terulur mengelus rambut Karang dengan lembut. Karang hanya diam saat Dokter Bulan menatap luka berdarah di lengannya dengan lekat.

“Ssshh,” Karang mendesis menahan nyeri saat lukanya tidak sengaja disentuh. Dokter Bulan tersenyum sambil menunduk dan mulai mengobati lukanya dengan pelan dan lembut seakan Karang adalah suatu benda yang langka dan mahal. Karang diam enggan bicara, matanya menatap wajah Dokter Bulan yang terlihat menenangkan. “Kamu tahu, dulu Dokter juga seperti kamu.” Karang menatap penuh dengan isyarat bertanya. “Dulu Dokter juga pernah merasakan seperti apa yang kamu alami saat ini, kesedihan, kekecewaan, dan kesakitan. Rasanya sangat menyakitkan dan membuat Dokter sangat frustasi.”

“Dulu dokter pernah berpikir, ah kenapa aku tetap hidup di saat yang lain menginginkan aku untuk berhenti bernapas?” Dokter Bulan menatap Karang dengan teduh. “Malam itu Dokter tanpa sadar telah membuat suatu keputusan yang salah, Dokter mencoba melukai diri Dokter dengan meminum obat tidur dengan dosis tinggi.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Dokter dinyatakan overdosis obat dan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh pembantu yang menemukan dokter tergeletak di dalam kamar. Selama di rawat, Dokter berada di suatu tempat yang sangat indah. Begitu menenangkan, Dokter seakan enggan meninggalkan tempat itu,” Karang menatap minat cerita Dokter Bulan tanpa menyadari salah satu Dokter yang berada di sana menyuntikkan obat tidur padanya. “Di sana Dokter bertemu seseorang, dia begitu bersih. Kami berbincang sangat panjang tentang apa yang terjadi di dunia. Hingga ada satu kalimat yang dokter tangkap darinya dan itu sangat berharga.”

“Apa?”

“Cintai dirimu sendiri, sebelum kamu mencintai orang lain. Jangan menjadikan orang lain sebagai duniamu, tapi buatlah sendiri duniamu yang sangat kamu impikan,”Dokter Bulan menatap Karang yang mulai mengantuk. “Kamu tahu siapa yang mengucapkan itu?” Tanyanya.

“Siapa?”

“Kamu Karang,”

Dan setelahnya gelap menyelimuti Karang.

Hamparan pasir dan suara deburan ombak membuat siapapun yang melihat dan mendengarnya terasa sangat menenangkan, apalagi saat suara burung camar dan juga hembusan angin yang menyejukkan menghiasi langit sore membuatnya semakin indah. Di sana, di ujung tebing dua perempuan yang terlihat bagai lukisan itu duduk sambil menatap ke arah laut dengan senyuman yang sangat menawan, salah satu dari mereka memegang sebuah cermin kecil yang terbungkus kertas.

“Kamu hebat Karang, kamu adalah sosok malaikat yang sangat berharga.” Karang menatap ke arah Dokter Bulan dengan wajah lugu membuat Dokter itu terkekeh geli. Tangannya mengelus rambut Karang yang terlihat indah saat tertiup angin. “Terima kasih telah bertahan dan tetap bersama saya.”

“Seharusnya Karang yang berterima kasih kepada Dokter karena Dokter tanpa lelah terus berada di samping Karang, menyemangati Karang dan membuat Karang bisa melawan setiap ucapan dia.” Karang tertawa dengan riang lalu menatap lautan yang sangat indah di depannya. Matanya menatap sebuah cermin kecil yang terbungkus oleh kertas itu lalu kembali melihat Dokter Bulan yang tetap tersenyum.

Dengan tangan bergetar, Karang mencoba merilekskan diri lalu berdiri dari duduknya dan tersenyum lebar sambil menatap ke depan. Lalu tanpa aba-aba tangannya melempar cermin yang terbungkus itu ke arah laut lalu berteriak dengan keras.

“Untuk kamu, diriku yang berada di seberang sana terima kasih atas semua yang sudah kamu berikan untukku.” Karang tertawa sebelum kembali mengatakan hal lain. “Aku berharap kamu bisa kembali menjadi dirimu sendiri dan tidak melihat ke dunia orang lain. Mari kita buat dunia kita sendiri! Aku Karangka Putri Acturus  berjanji akan mencintai diri sendiri tanpa memikirkan orang lain!”

Dokter Bulan ikut berdiri dan memeluk Karang dengan erat yang dibalas tak kalah erat, matanya berkaca-kaca, semua bebannya terasa terangkat dan membuatnya merasa lebih baik. “Dokter, terima kasih,” ucap Karang dengan tulus. Dokter Bulan mengangguk lalu membawa Karang pergi meninggalkan tempat itu, seperti burung yang terbebas dari sangkar dan terbang bebas tanpa rasa takut.

 

Quotes

“Love yourself, before you love someone else.”


Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini